
(Teks: Widhi Deniartomo Arisona, Editor: Denti Rahayu, Foto: Dokumentasi Pribadi)
Jika manusia diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna, mengapa kita memerlukan seumur hidup untuk belajar menjadi diri sendiri?
Pertanyaan itu terasa dekat ketika saya menengok perjalanan hidup saya. Sejak kecil, saya memiliki impian dan cita-cita. Namun, cita-cita hanyalah awal. Untuk mendekatinya, saya perlu belajar memahami dunia, mengenali kemampuan diri, menentukan langkah, sekaligus terus memperbaiki diri.
Saya percaya manusia diberi tubuh, indra, perasaan, dan akal yang saling melengkapi. Kita dapat melihat dan mendengar, merasakan dan berpikir, kemudian mengambil pelajaran dari apa yang dialami. Bagi saya, kesempurnaan penciptaan itu membawa tanggung jawab untuk menggunakan kesempatan hidup dan terus bertumbuh.
Menjadi lebih baik, bagi saya, bukan sekadar menambah pengetahuan. Saa berusaha memahami sesuatu yang sebelumnya belum dimengerti, mendengarkan dengan lebih sungguh-sungguh, mempertimbangkan sudut pandang berbeda, mengakui kekeliruan dan memperbaikinya, serta menggunakan pengetahuan agar kehadiran kita semakin bermanfaat. Kemampuan berpikir perlu disertai kesediaan mendengarkan, sementara keinginan untuk maju perlu berjalan bersama kerendahan hati untuk menerima masukan.
Tentu, menjalaninya tidak selalu mudah. Ada kenyamanan dalam sesuatu yang sudah dikuasai dan ada keengganan ketika harus memulai kembali. Mengakui bahwa kita belum mengerti pun membutuhkan keberanian. Karena itu, menjadi pembelajar sepanjang hayat dimulai dari kesediaan berkata, “Saya belum memahami ini,” lalu mengambil langkah untuk mempelajarinya.
Harapan saya, Anda dapat menemukan sesuatu yang dekat dengan kehidupan Anda sendiri. Mungkin sebuah pertanyaan yang juga sedang Anda pikirkan. Mungkin dorongan untuk kembali mendekati cita-cita yang sempat tertunda. Atau keberanian untuk mempelajari sesuatu yang selama ini terasa terlalu sulit untuk dimulai
“Be a lifelong learner. Jadilah pembelajar sepanjang hayat”. Itulah pesan yang ingin saya titipkan. Selama masih diberi waktu, saya ingin tetap memiliki rasa ingin tahu, keterbukaan untuk menerima pelajaran, dan kemauan memperbaiki diri.
Perjalanan Karier: Menjadi ASN yang Bernilai
Seberapa berarti sebuah jabatan jika kehadiran kita belum membuat urusan orang lain menjadi lebih baik?
Pertanyaan itu menjadi pengingat bagi saya dalam memaknai pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara. Di balik setiap tugas, ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan, rekan kerja yang membutuhkan dukungan, dan kepercayaan yang harus dijaga. Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut, saya perlu terus bertumbuh.
Perjalanan itu bermula ketika saya menempuh pendidikan di SMA 1 Cigombong, Kabupaten Bogor, dekat perbatasan Sukabumi. Di sana saya belajar mandiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, memahami kebiasaan orang lain, dan perlahan membentuk mental serta karakter.
Saya kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Imigrasi. Tiga tahun pendidikan menjadi bekal untuk berkarier dalam organisasi keimigrasian. Saya belajar disiplin, tanggung jawab, menaati aturan, dan hidup bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda. Saat itu saya bukan sosok yang paling menonjol. Kini saya memahami bahwa pertumbuhan tidak selalu tampak mencolok. Banyak perubahan berlangsung perlahan melalui kebiasaan yang diulang dan tanggung jawab kecil yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Setelah lulus, saya mengawali karier sebagai pejabat imigrasi di Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta. Selama kurang lebih empat tahun enam bulan, saya berhadapan dengan situasi pekerjaan yang nyata. Pengetahuan dari pendidikan bertemu dengan persoalan masyarakat. Dari sana saya memahami bahwa kompetensi merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang petugas karena masyarakat berhak dilayani oleh orang yang memahami pekerjaannya.
Saya kemudian mendapat penugasan sebagai ajudan Inspektur Jenderal dan Direktur Jenderal Imigrasi. Dari posisi tersebut, saya belajar melalui kedekatan dengan keseharian seorang pemimpin: bagaimana persoalan dipahami sebelum menjadi bahan kebijakan, bagaimana informasi dipertimbangkan, dan bagaimana keputusan dikomunikasikan. Pengalaman itu mengajarkan saya untuk melihat persoalan dari berbagai sisi, memeriksa keadaan sebelum menarik kesimpulan, serta terus meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan menjaga integritas.
Bekal tersebut semakin berarti ketika saya dipercaya sebagai Kepala Seksi Unit Delta di Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta dan memimpin kurang lebih 150 orang. Saya belajar bahwa satu pendekatan belum tentu sesuai untuk semua orang. Kompetensi, integritas, disiplin, dan kemauan belajar perlu berjalan bersama. Mengajak orang lain bertumbuh berarti memberi ruang untuk bertanya, belajar, dan memperbaiki pekerjaan, sekaligus menunjukkan kesediaan melakukan hal yang sama.
Di sela-sela tugas, saya menikmati kegiatan “trabas” dengan sepeda motor trail. Melewati medan sulit mengajarkan perhatian, keseimbangan, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi di depan. Bagi saya, kegemaran tersebut menjadi ruang untuk menikmati tantangan di luar pekerjaan.
Perjalanan tugas berikutnya membawa saya ke Kantor Imigrasi Jakarta Utara sebagai Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian. Di sana saya melihat bahwa proses pembuatan paspor yang bagi petugas terasa rutin dapat menimbulkan banyak pertanyaan bagi pemohon. Dari perhatian itu, saya mengupayakan kemudahan melalui sistem antrean yang dapat dipantau secara langsung melalui telepon genggam. Bagi saya, waktu masyarakat begitu berharga.
Perjalanan Selanjutnya: Mengemban Amanah di Kantor Imigrasi Jakbar
Setelah bertugas sekitar sembilan bulan di Direktorat Jenderal Imigrasi, saya mendapat amanah sebagai Kepala Bidang Izin Tinggal dan Status Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat, jabatan yang saya emban hingga tulisan ini dibuat.
Di tempat ini, saya terus menekankan pentingnya pelayanan prima. Kualitas pelayanan terlihat dari hal-hal konkret: ketepatan informasi, kejelasan prosedur, kesungguhan mendengarkan, serta kesediaan membantu masyarakat memahami proses yang harus dijalani. Pekerjaan perlu diselesaikan dengan cermat agar orang lain tidak menanggung akibat dari kelalaian kita.
Saya juga ingin membiasakan diri bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab. Bagi saya, kebiasaan berbuat baik dapat menjadi penjaga diri sekaligus memperkuat batas agar tidak mudah melangkah menuju hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang diyakini.
Di setiap tempat penugasan, saya berusaha meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan dapat digunakan secara berkelanjutan. Itulah makna jejak pengabdian bagi saya: manfaat yang tetap hidup ketika tugas di suatu tempat telah selesai.
Dalam fase perjalanan ini, saya juga mulai menyukai olahraga lari. Setelah sebelumnya menikmati tantangan dengan sepeda motor trail, saya menemukan kesenangan dalam langkah-langkah yang lebih sederhana. Lari menjadi kesempatan menyediakan waktu untuk diri sendiri, memberi jeda dari kesibukan, dan membangun kebiasaan merawat tubuh.
Ketika menengok perjalanan sejak masa sekolah hingga berbagai penugasan, saya melihat betapa banyak hal yang masih harus dipelajari. Setiap tempat menghadirkan tanggung jawab, persoalan, dan kesempatan untuk bertumbuh.
Karena itu, saya ingin terus bertanya: apakah pengetahuan saya hari ini masih cukup untuk menjalankan amanah dengan baik? Apakah cara saya bekerja sudah membantu masyarakat? Apakah kehadiran saya membuat rekan-rekan semakin mampu menjalankan tugasnya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjaga saya agar tidak terlalu cepat merasa puas.
Bagi saya, menjadi ASN yang bernilai berarti terus meningkatkan kemampuan dan menggunakannya untuk melayani dengan lebih baik. Nilai itu hadir ketika masyarakat memperoleh kepastian, rekan kerja mendapatkan dukungan, dan kepercayaan dijaga melalui tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Besok, saya ingin datang bekerja dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang dapat saya pelajari dan perbaiki hari ini agar kehadiran saya semakin bermanfaat?