
(Teks: Denti Rahayu, Foto: Khamim Hudori, Syaman Bagus Putra R.)
Peran pemimpin bukan hanya tentang menjadi komando tertinggi sebuah organisasi, namun juga tentang komitmen untuk menghadirkan pelayanan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip itulah yang menjadi semangat Rakha Sukma Purnama dalam setiap langkah pengabdiannya di imigrasi. Saat ini, sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat, beliau mengemban amanah untuk melanjutkan budaya kerja yang profesional, humanis, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Beranjak dewasa, pria yang lahir di Palembang pada 5 September 1982 ini tergerak untuk memilih sekolah kedinasan sebagai tempat melanjutkan pendidikannya. Beliau akhirnya memilih Akademi Imigrasi. Pemilihan sekolah dinas tersebut berangkat dari niat sederhana, yaitu dapat melanjutkan pendidikan tanpa memberatkan orang tua.
Uniknya, perjalanan Rakha menuju Akademi Imigrasi tidak direncanakan secara khusus. Berawal dari ajakan seorang teman semasa SMA untuk mengikuti seleksi, Rakha mencoba peruntungannya. Beliau berhasil diterima sebagai taruna pada tahun 2000. Kesempatan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Rakha, masa pendidikan yang membentuk karakter, integritas, dan komitmennya sebagai pejabat imigrasi.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Rakha mengawali karier di Direktorat Jenderal Imigrasi dan mendapat penugasan di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Di masa awal pengabdian ini, beliau juga menjalani pendidikan Sarjana Hukum Universitas Padjadjaran melalui program beasiswa. Rutinitas bekerja pada hari kerja dan menempuh perkuliahan akhir pekan di luar kota menjadi tantangan tersendiri yang mengajarkan pentingnya disiplin, ketekunan, serta kegigihan dalam membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Dari Pondasi Hingga Gedung Tinggi, Kisah Rakha di Kediri
Perjalanan karier Rakha mulai beranjak ke berbagai posisi. Mulai dari Kepala Seksi Pemeriksaan II di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya, Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, hingga dipercaya menjadi Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri.
Penugasan di Kediri menjadi salah satu fase paling berkesan dalam perjalanan kariernya. Saat itu, kantor masih menempati gedung pinjaman dengan sarana yang terbatas, sementara kebutuhan pelayanan masyarakat terus meningkat. Mendapat arahan langsung dari Direktur Jenderal Imigrasi untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat, Rakha terpacu untuk melakukan perubahan.
Bersama seluruh jajaran, Rakha mengemban tiga agenda besar secara bersamaan, yaitu membangun gedung kantor baru, mewujudkan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), serta merintis kenaikan status Kantor Imigrasi Kediri dari Kelas III menjadi Kelas II. Semua usaha tersebut harus dilaksanakan secara linier dan sinergitas yang baik dari semua pihak.
Proses tersebut bukanlah hal yang mudah. Berbagai koordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian, serta pemangku kepentingan harus dilakukan, mulai dari penyediaan lahan, pengajuan anggaran, hingga proses pembangunan. Setelah melalui berbagai tantangan, pada tahun 2020 Kantor Imigrasi Kediri akhirnya berdiridan dapat memberikan pelayanan yang lebih representatif kepada masyarakat. Bagi Rakha, keberhasilan tersebut bukan sekadar pembangunan sebuah gedung, melainkan hasil kerja sama seluruh pegawai untuk mewujudkan pelayanan yang lebih baik.
Pengalaman Baru dari Rumah Detensi Imigrasi
Setelah memimpin Kantor Imigrasi, Rakha kembali mengemban amanah baru sebagai Kepala Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjungpinang. Penugasan tersebut menjadi pengalaman yang berbeda karena sebelumnya beliau belum pernah berkecimpung secara langsung dalam pengelolaan rumah detensi.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah memahami tugas dan fungsi Rudenim dalam waktu yang relatif singkat. Untuk itu, beliau memilih turun langsung berdiskusi dengan para pegawai agar dapat memahami setiap proses kerja secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya yang mengedepankan kolaborasi dan pendekatan personal antara pimpinan dengan seluruh pegawai, termasuk tenaga pendukung di lingkungan kantor.
Bagi beliau, organisasi akan berjalan dengan baik ketika setiap individu merasa dihargai dan memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan. Karena itu, suasana kerja yang terbuka dan saling mendukung adalah budaya yang ingin beliau bangun di setiap tempat penugasan.
Keluarga dan Musik: Tempat Pulang di Sela Tugas
Di antara kesibukan sebagai pimpinan, Rakha memiliki hobi bermusik. Beliau memainkan alat musik bas dan pernah juga menjadi vokalis. Rakha bahkan pernah membentuk grup band bersama para pegawai saat bertugas di Kantor Imigrasi Balikpapan, yaitu “Behind The Board Band”. Hobi tersebut dimanfaatkan sebagai cara kreatif untuk memperkenalkan kantor kepada masyarakat melalui video musik yang mengambil latar area pelayanan.
Berpindah di berbagai penugasan, keluarga adalah prioritas utama dalam hidup beliau. Bersama sang istri yang juga berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara beserta ketiga anaknya, Rakha berusaha menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan amanah sebagai abdi negara. Penugasan di berbagai daerah, termasuk ketika pandemi, menjadi ujian tersendiri karena harus berjauhan dengan keluarga. Namun, pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa setiap pengabdian selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat.
Amanah Baru, Komitmen Hadirkan Yang Terbaik Untuk Masyarakat
Kini, amanah sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat menjadi ruang bagi Rakha untuk mewujudkan nilai-nilai yang telah dipegangnya selama lebih dari dua dekade pengabdian. Menurutnya, setiap fasilitas, sarana prasarana, serta inovasi pelayanan yang dihadirkan merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada bangsa dan negara. Bersama seluruh jajaran, beliau terus mendorong terciptanya budaya kerja yang kolaboratif, profesional, dan berintegritas. Bagi Rakha, keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari capaian kinerja, tetapi juga dari kemampuan seluruh unsur di dalamnya untuk bekerja sama, saling mendukung, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di sisi lain, Rakha menegaskan bahwa tugas keimigrasian tidak hanya berfokus pada pelayanan, tetapi juga mencakup penegakan hukum melalui pengawasan Orang Asing, yang secara rutin dilakukan melalui operasi pengawasan Wirawaspada maupun menggelar Rapat Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora). Tidak hanya itu, Kantor Imigrasi juga memberikan dukungan terhadap pembangunan nasional melalui pemberian kemudahan bagi investor, tenaga ahli, maupun pihak yang memberikan manfaat bagi Indonesia.
Dalam memimpin organisasi, Rakha memegang teguh sebuah prinsip yang selalu menjadi pedoman hidupnya, yaitu “khairunnas anfa’uhum linnas”, yaitu sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa setiap tugas yang dijalankan bukan hanya dinilai oleh manusia, tetapi juga merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan kelak.
“Kesempurnaan memang hanya milik Allah SWT. Namun saya berharap kita semua dapat bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Karena pada akhirnya, keberadaan kita harus benar-benar membawa manfaat bagi orang lain,” pungkas Rakha.